Inside Out

Mahakarya dari Pixar. Original dan Genius

Ditulis oleh Prama Aditya pada 30 Agustus 2015

Gw ga biasanya ngasih review tentang suatu film, apalagi sampai menulis sebuah post yang didekasikan untuk film itu. Tapi Inside Out benar-benar luar biasa hebat hingga gw merasa harus bikin review dan nyuruh semua temen saya nonton film ini. So here we go, hopefully I can do it justice


Film-film terbaik Pixar adalah film yang ambisius dan kompleks yang ditujukan untuk orang dewasa, yang kebetulan saja memiliki karakter, warna dan cerita yang menarik untuk anak-anak. Coba lihat “Up”, “Toy Story” dan “Finding Nemo”, film yang penuh dengan emosi kompleks yang anak kecil bahkan belum bisa mengerti. Malahan para orang tua yang paham betul lika-liku kehidupan yang diobrak-abrik emosinya oleh film-film Pixar.

Dan dari semua film yang pernah dibuat Pixar, menurut gw Inside Out adalah representasi sempurna dari studio ini. Film yang berani, lucu, sedih dan menegangkan di saat yang bersamaan. Dengan tampilan indah yang layak untuk memenangkan penghargaan Best Picture di Academy Awards

Saran gw, tonton film ini sendirian, jangan sama orang yang lu kenal supaya lu ga gengsi untuk meluapkan emosi lu saat nonton film ini.

Awalnya gw datang ke bioskop dengan rasa penasaran karena di Rotten Tomatoes film ini memiliki skor 98%. Skor yang sangat luar biasa karena Rotten Tomatoes terkenal sangat kritis dan “pelit” dengan nilainya (Fant4stic anyone? 9%! yeesh). Tapi gw ga kebayang apa yang bisa membuat skornya sebesar itu.

Lampu teater bioskop mulai meredup dan gw disuguhi dengan sebuah film pendek dari Pixar yang berjudul “Lava”. Film pendek ini menceritakan tentang kisah cinta… antara gunung berapi. Konsep yang bizzare tapi entah bagaimana bisa dieksekusi dengan indah oleh Pixar. Lava ini seakan-akan dibuat untuk pemanasan sebelum menonton Inside Out.

Inside Out menceritakan tentang seorang anak perempuan berumur 11 tahun bernama Riley Anderson yang lahir di Minnesota. Kita melihat dunianya Riley lewat emosi-emosi yang ada di dalam kepalanya. Emosi tersebut adalah:

  • Bahagia (Joy)
  • Sedih (Sad)
  • Takut (Fear)
  • Marah (Anger)
  • Jijik (Disgust)

Setiap emosi memiliki tugasnya masing-masing di dalam Headquarter dalam kepala Riley. Dan layaknya anak usia 11 tahun, Bahagia adalah emosi yang dominan diantara semua emosi yang lain.

Namun ketika keluarga Riley harus pindah ke San Fransisco, Riley harus keluar dari zona nyamannya dan harus menjalani realita kehidupan dan tumbuh dewasa.

Dan di kepala Riley keadaan menjadi tambah parah ketika Bahagia dan Sedih tersedot keluar dari Headquarter, menyisakan Takut, Marah dan Jijik untuk mengontrol perilaku Riley.

Pernah dikatain kalau kita berubah dibanding pas kecil? Gw pribadi sering denger bahwa gw dulu orangnya sangat rewel dan selalu bertanya-tanya namun ketika adek saya lahir, tiba-tiba saya jadi pendiam. Disini kita bisa melihat bagaimana proses perubahan itu terjadi, setidaknya pada Riley.

Hal lain yang membuat Inside Out genius di mata gw adalah representasi depresi yang akurat. Orang-orang sering menyalahartikan orang depresi sebagai orang yang sangat sedih, namun sebenarnya orang yang depresi adalah orang yang sudah tidak bisa lagi merasakan emosi.

Pesan utama dari Inside Out adalah tumbuh dewasa can sucks, dan sedih itu tidak apa-apa karena semua emosi sama pentingnya. Kita ga bisa bahagia terus menerus, ada kalanya kita harus merasa sedih untuk meluapkan emosi kita yang terpendam supaya kita ga terbebani dan bisa move on.

9.5/10. Satu dari sedikit film yang gw rela nonton 2 kali di bioskop 👍👍

Jika kamu punya pertanyaan atau komentar, kamu bisa menuliskannya di bawah. Kalau kamu menyukai post ini, kamu bisa menyebarkannya lewat Twitter, Facebook atau Google+. Follow me on Twitter!



Komentar