Mau bikin komik? Jangan dicetak!

Di saat komik Indonesia 1.5x lebih mahal dari komik jepang, komik digital bisa jadi jawabannya

Ditulis oleh Prama Aditya pada 28 Agustus 2015 Diperbarui pada , WIB

Saat ini saya sedang dalam proses menulis komik superhero Indonesia. Orbit, adalah cerita mengenai seorang anak mahasiswa Jakarta bernama Helmy. Setelah menjadi sole survivor dari kecelakaan pesawat ulang alik, Helmy mendapatkan kekuatan untuk memanipulasi gravitasi. Termakan rasa bersalah sebagai satu-satunya orang yang selamat (survivor’s guilt), Helmy menggunakan kekuatannya sebagai Superhero dengan nama Orbit.

Orbit rencananya akan dirilis pada Januari 2016.


Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi Gramedia. Iseng-iseng saya ingin tahu berapa harga komik saat ini, sebagai benchmark untuk komik saya. Saya terakhir membeli komik di toko buku sekitar 2-3 tahun yang lalu, waktu itu harga komik manga seperti Naruto dan One Piece ada di kisaran 12.000 sampai 14.000 rupiah.

Alangkah kagetnya saya ketika melihat komik Naruto kini berharga 20.000 rupiah. Kemudian di pojokan dalam Rak saya melihat komik tankobon (komik lepas) The Grand Legend Ramayana karyanya Is Yuniarto harganya 35.000 rupiah!

Saya ga habis pikir, harga komik lokal rata-rata lebih mahal 10-15rb daripada komik Jepang yang notabene harganya ada di kisaran 20rb. Sudah kalah tenar, harga juga lebih mahal, sulit rasanya komik Indonesia bersaing di ranah fisik.

Dari sana, saya akhirnya memutuskan untuk merilis Orbit dalam bentuk komik digital dengan format PDF, CBR dan CBZ. Perbedaan utama antara komik digital komik web/webcomic adalah komik digital adalah komik yang bisa di download dan dibaca offline tanpa harus dibaca secara online di website penulis.

Ada 2 alasan kenapa saya memutuskan untuk merilis komik saya dalam bentuk digital:

  1. Alasan yang pertama, saya membuat komik ini atas dasar kecintaan saya terhadap komik, baik manga maupun komik amerika. Saya biasa membaca komik lewat website scanlation, sehingga saya jauh lebih sering membaca komik di layar komputer.

  2. Alasan yang kedua adalah biaya. Untuk masuk ke dunia industri percetakan tidaklah murah. Keluarga saya sudah banyak makan asam garam soal percetakan. Paman saya, Mo Sidik (sekarang lebih dikenal sebagai Stand Up Comedian), pernah membuat majalah anak SMA bernama Grey. Produksi Grey berhenti setelah biaya percetakan terbukti terlalu besar untuk ditutupi oleh pemasukan.

Namun membaca komik di layar komputer bisa jadi tidak nyaman. Hal ini dikarenakan orientasi komik portrait tidak nyaman untuk dibaca di layar komputer yang notabene berorientasi landscape. Untuk bisa membaca seluruh tulisan dengan jelas, saya harus memperbesar halaman komik dan hal ini merusak pacing cerita yang sudah direncanakan sedemikian rupa oleh penulis dan penggambar komik.

comixology guided view

Comixology Guided View

courtesy of http://comixology.com

Melihat permasalahan ini, saya memutuskan untuk membuat komik saya dalam halaman landscape. Beberapa penulis dan publisher besar sudah mulai menggunakan metode ini. Berikut adalah daftar 10 komik yang berorientasi landscape.

Tapi keputusan saya untuk membuat komik dengan format digital kini menghasilkan permasalahan baru: Pembajakan.

Pembajakan di Indonesia sudah menjadi hal yang cukup wajar. Walaupun mulai ada gerakan untuk mendorong penggunaan produk asli, mayoritas penduduk masih merasa tidak terganggu untuk membajak produk digital. Sebagai penulis, saya khawatir apabila komik saya disebar luaskan secara ilegal sampai-sampai mempengaruhi penjualan secara drastis.

Salah satu cara mencegah pembajakan adalah dengan menggunakan DRM atau Digital Rights Management. Di dunia komik, contoh penerapan DRM adalah aplikasi Comixology. Di Comixology, pembaca bisa “membeli” komik digital yang diinginkan dan membacanya di aplikasi tersebut. Saya menulis kata membeli dalam tanda kurung karena pembeli sebenarnya tidak memiliki file komik tersebut, Comixology hanya memberikan akses pada pembeli untuk membaca file komik yang berada di server Comixology.

Namun masalah dapat muncul apabila Comixology memutuskan untuk menghapus komik tersebut dari database mereka yang, seperti yang terjadi di kasus komik Saga. Pembeli yang sudah membayar kehilangan akses untuk membaca komik-komik tersebut, walaupun mereka sudah “membeli” komik tersebut secara legal.

Saya pribadi percaya bahwa ketika saya membeli sesuatu, saya harus mempunyai kepemilikan atas hal tersebut. Sebagai pemilik saya juga sudah seharusnya bebas untuk melakukan apapun yang saya suka dengan barang tersebut selama tidak melanggar hukum. Dengan DRM, Pembeli tidak mepunyai kepemilikan atas komik yang dia beli, dan pembeli tidak bebas untuk memindahkan komiknya ke perangkat lain yang dia miliki dengan cara apapun yang dia inginkan.

Menurut riset dari Hewlett-Packard, DRM ternyata tidak efektif untuk mencegah penyebaran massal konten digital secara ilegal. DRM cepat atau lambat akan tertembus apabila permintaan memang tinggi. Jadi keberadaan DRM hanyalah mempersulit kostumer legal tanpa mampu mencegah penyebaran massal yang ilegal . Oleh karena itu saya juga memutuskan untuk tidak menggunakan DRM.

Sebagai alternatif saya akan menggunakan metode watermarking. Dengan metode ini, watermark (baik terlihat maupun tidak terlihat) yang berisi data pribadi pembeli akan ditaruh di tiap halaman komik, beserta pemberitahuan untuk tidak menjual ulang dan mendistribusikan komik tersebut ke orang lain. Sebelum membeli komik, pembeli akan diminta persetujuannya terlebih dahulu dalam bentuk terms and condition.

Penggunaan data pribadi ini dimaksudkan untuk menjadi detterent bagi pembeli untuk membagi komik yang berisi data pribadinya ke orang yang tidak dikenal. Sehingga membuat setiap pembeli menjadi gatekeeper untuk mencegah pembajakan komik, karena konsekuensi menyebar komik miliknya adalah data pribadinya akan tersebar ke orang-orang yang tidak ia kenali.

Metode watermarking juga memungkinkan adanya halaman personalisasi dalam komik. Halaman personalisasi tersebut akan berisi paragraf seperti:

Terima kasih [nama pembeli]! Karena telah membeli komik ini secara legal. Dengan membeli komik ini secara legal, [nama pembeli] telah memungkinkan kami untuk terus berkarya dan memajukan industri komik Indonesia. Apabila kamu bukan [nama pembeli], silahkan membeli komik kami secara legal di [url]. Bantu kami terus berkarya dan mari kita majukan industri komik Indonesia bersama-sama!

Begitulah pemikiran saya saat ini dalam membuat komik Orbit. Komik Orbit akan berformat digital (PDF, CBR dan CBZ), berorientasi landscape dan tanpa DRM. Sebagai gantinya data pribadi pembeli akan di watermark pada tiap halaman komik untuk mencegah penyebaran massal komik Orbit.

Jika kamu punya pertanyaan atau komentar, kamu bisa menuliskannya di bawah. Kalau kamu menyukai post ini, kamu bisa menyebarkannya lewat Twitter, Facebook atau Google+. Follow me on Twitter!



Komentar