Comic: Manga vs Western Comic

Apa bedanya? Dan mana yang cocok untuk industri komik Indonesia?

Ditulis oleh Prama Aditya pada 13 Juni 2015 Diperbarui pada , WIB

Sebelum memulai membuat komik, perjalanan saya dimulai dengan mencari perbedaan antara Manga dan Komik “Western”. Dari research yang saya lakukan, komik Manga dan Barat memiliki perbedaan pada metode produksi dan gaya gambar.

📦 Metode Produksi

Secara metode produksi dan distribusinya, komik barat dan Manga memiliki perbedaan yang mencolok. Bagi yang pernah membaca Manga Bakuman pasti memiliki pemahaman dasar bagaimana keadaan industri komik di Jepang. Setiap chapter Manga biasanya berisi 15 halaman yang akan dicetak di “majalah komik” mingguan (atau 2-mingguan atau bulanan) seperti Shonen Jump. Sebelum akhirnya dicetak menjadi satu volume komik yang berisi beberapa chapter, biasa dikenal sebagai Tankobon. Manga biasanya dicetak dengan warna hitam-putih di kertas dengan kualitas kertas koran.

Beberapa judul Manga biasanya hanya berisi beberapa chapter, seperti Ghost in Shell yang semuanya dapat dicetak dalam 1 Tankobon, atau dapat berlangsung selama bertahun-tahun seperti One Piece yang saat ini sudah mencapai 77 Tankobon dan belum ada tanda-tanda akan tamat. Hal yang menarik dari Manga adalah, serial yang sudah berlangsung selama 18 tahun lebih, seperti One Piece dan Hajime no Ippo, ditulis dan digambar oleh 1 orang saja (long live Oda Eiichiro). Walaupun ada beberapa pengecualian seperti Death Note atau Bakuman yang ditulis dan digambar oleh 2 orang yang berbeda (duo). Selama serial Manga berlangsung tidak ada fill-in artist yang menggantikan Mangaka, hal ini mengakibatkan banyaknya kasus hiatus Manga karena sang Mangaka jatuh sakit karena beban pekerjaan yang berlebihan. Beberapa Mangaka menggunakan asisten untuk hal-hal seperti menggambar background dan inking dengan tingkat keterlibatan yang bervariasi. Namun metode produksi ini menghasilkan gaya gambar yang konsisten pada serial Manga yang berjalan selama belasan tahun lebih.

Hal ini sangat kontras dengan metode produksi komik barat yang mayoritas dari serialnya dibuat oleh penulis dan seniman yang silih berganti, menyebabkan gaya gambar yang tidak konsisten. Walaupun ada beberapa pengecualian pada komik buatan Image dan Dark Horse, hampir 90% komik barat tidak memiliki tim penulis dan seniman yang tetap.

Berbagai Batman

Gambar Batman yang tidak konsisten

courtesy of http://www.allanimation.com/facesofbatman.html

Ini disebabkan oleh perbedaan budaya antara Jepang dan Amerika, terutama pada masalah pacing. Produksi komik barat lebih cepat dibandingkan Manga, karena lebih menekankan pada action. Mangaka tidak perlu menghasilkan komik secepat komikus barat, dan biasanya meminta kesabaran kepada pembaca.

Perbedaan kecepatan produksi ini paling terlihat pada DC yang semenjak tahun 2011 yang melakukan quarterly-shipping dalam bentuk DC New 52 Week #. Artinya dalam sebulan, DC akan melakukan 4 kali shipping dalam sebulan dengan 6-15 judul per minggu. Jadwal yang ketat ini mengakibatkan perlunya tim seniman hingga 6 orang untuk membuat 1 judul saja.

Variasi penulis kadang mengakibatkan kontradiksi cerita dengan penulis-penulis sebelumnya, menjadikan fenomena reboot (seperti DC New 52 dan Marvel NOW!) atau retcon menjadi hal yang cukup sering dilakukan oleh DC dan Marvel. Namun Manga yang memiliki penulis yang konsisten juga memiliki beberapa kekurangan. Di Manga hampir tidak pernah ada crossover antara karakter dari 2 judul yang berbeda, mungkin ada beberapa crossover kecil namun hal itu tidak mempengaruhi plot dan hanya digunakan untuk “senang-senang”.

Yang terakhir, metode produksi komik barat memiliki keunggulan berupa produksi komik yang full-color.

🎨 Art Style

Perbedaan selanjutnya adalah gaya gambar. Salah satu penjelasan perbedaan gaya gambar yang paling saya sukai adalah perebedaan cara interpertasi realitas, simplifikasinya dan penonjolan bagiannya.

Gaya gambar Manga lebih menonjolkan pada bagian tubuh yang lebih spesifik seperti mata yang besar, hidung hanya segaris, dsb dibandingkan gaya gambar barat yang penonjolannya lebih bervariasi. Menurut saya video dibawah ini mampu menjelaskan dengan baik perbedaan dari gaya gambar Manga dan barat. Enjoy

Menurut saya, hal yang paling menarik dari video diatas adalah gaya gambar manga/anime yang dikatakan sebagai gaya inbred. Hal ini dikarenakan variasi dari gaya manga/anime tidak banyak dan variasi itu pun adalah interpertasi dari interpertasi (bukannya interpertasi dari realita). Dibandingkan dengan gaya komik amerika yang cukup bervariasi, seperti yang dijelaskan pada video selanjutnya


Kedua video diatas menjelaskan cara mencari art style original bagi para calon seniman atau komikus. Di dalamnya dapat dilihat bahwa ada banyak variasi gaya gambar dari komik barat. Variasi dalam hal bagian badan/muka yang ditonjolkan dan disimplifikasi.

Penutup

Jadi begitulah perbedaan antara Manga dan komik Barat.

Saya merasa bahwa saat ini di Indonesia mayoritas komikus menggunakan gaya Manga, baik dalam gaya gambar dan metode produksinya (one man team). Menurut saya, metode produksi komik barat yang menekankan pada kolaborasi perlu digunakan di Indonesia untuk membuat komik dengan kualitas bagus dan cepat. Penggunaan seniman dan penulis berbeda pada suatu judul juga mempermudah masuknya seniman dan penulis baru ke dunia perkomikan, dibandingkan keadaan saat ini dimana penulis dan seniman komik baru harus membuat serial komik sendiri untuk masuk ke industri komik Indonesia. Saya yakin dengan metode produksi komik barat industri komik Indonesia akan lebih cepat berkembang.

Jika kamu punya pertanyaan atau komentar, kamu bisa menuliskannya di bawah. Kalau kamu menyukai post ini, kamu bisa menyebarkannya lewat Twitter, Facebook atau Google+. Follow me on Twitter!



Komentar