LEANing to Glory

Bagaimana saya ingin jadi Enterprenuer lagi

Ditulis oleh Prama Aditya pada 10 Juni 2015

Berawal dari lomba redesign website kominfo sekitar 3 minggu yang lalu, saya jadi sering menginap di kontrakan/kantor Meridian yang isinya teman-teman se-fakultas saya. Sebagaimana kantor startup yang merangkap kontrakan pada umumnya, tempatnya sangat produktif di sore-malam hari namun masuk mode bego di pagi-siang hari. Agar kode web front-end untuk lomba bisa selesai dengan sebaik-baiknya saya memaksa teman-teman kelompok saya untuk bekerja secara intens disana, mengambil aura produktifitas yang dihasilkan di ruang tengah berisi meja kerja custom yang dibuat salah satu anggota Meridian, M. Sena Luphdika.

Selama pengerjaan web itu saya memerhatikan sebuah buku yang ada di rak buku bersama di kontrakan itu. RUNNING LEAN oleh Ash Maurya. Sebelumnya saya pernah mendengar mengenai Lean Product Development di newsletter startup yang tidak pernah saya baca dan cuma memenuhi inbox. Perlu diperhatikan, saya adalah orang skeptis pada pergerakan startup karena banyaknya jumlah startup yang gagal, dan kesan “kebanggaan” dari pembicara enterpreneur akan kegagalan itu . Frasa “taking risk” menjadi salah satu hal menjadi motto bagi enterpreneurship. Tentu saja sebenarnya ini tidak mewakilkan seluruh gerakan startup dan enterpreneurship, namun begitulah kesan yang diterima oleh saya, unnecesarry risk.

Saya bukanlah orang yang suka mengambil unnecesarry risk, dan bagi saya membuat produk baru dan membuat startup dengan tim sangat penuh dengan resiko. Melihat dari banyaknya startup yang gagal, saya berasumsi bahwa menejemen resiko dalam membuat startup merupakan hal yang abstrak dan hanya bisa dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, mejadikannya semacam seni.

Hal ini terlihat ketika saya mencoba membuat produk berupa aplikasi pertukaran kartu nama digital, yang awalnya merupakan tugas mata kuliah Pengembangan Aplikasi Mobile yang akhirnya saya gunakan untuk judul Tugas Akhir saya saat ini. Selama perancangan aplikasi ini saya sering sekali menanyakan pertanyaan seperti:

  • Siapa target konsumer ini?
  • Bagaimana cara monetizing aplikasi ini?
  • Apa teknologi yang digunakan untuk pertukaran kartu nama digital?
  • Di platform mobile mana aplikasi akan dibuat?
  • dsb.

Semua pertanyaan ini saya jawab dengan asumsi saya sendiri, dana sangat sering saya harus berisitrahat satu hari penuh karena kepala saya pusing memikirkannya. Hal ini diperburuk dengan kesulitan otak saya untuk berpikir sistematis dan suka meloncat-loncat kesana kemari tanpa bantuan grafik yang bisa membantu memfokuskan jalur pikiran.

Ketika saya berhasil membuat Business Plan untuk tugas matkul PAM, saya masih sangat ragu dengan kebenaran kontennya yang penuh dengan asumsi saya. Hal ini terbukti saat presentasi di hadapan “orang” KakaoTalk yang diundang dosen saya ke kampus, produk saya tidak terpilih dalam 3 besar walaupun banyaknya waktu yang saya tuangkan untuk membuat “solusi yang sempurna”. Kejadian ini yang membuat saya kecil hati untuk menjadi enterpreneur, karena saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk membuat “solusi yang sempurna”.

Kembali ke topik awal, saya mulai membaca buku Running Lean di sela-sela ngoding web kominfo. Begitu saya membaca pendahuluannya, jiwa enterpreneur bersama dengan jiwa ilmuwan di dalam diri saya mulai berjingkrakan. Dasar dari LEAN adalah melakukan eksperimen dan validasi dari ide sebuah produk. Memangkas resiko sebanyak-banyak nya dari pembuatan produk dengan melakukan eksperimen dan validasi. Pada dasarnya, LEAN mengawinkan metode sains dengan bisnis.

LEAN membuat proses pengembangan ide menjadi sebuah produk hingga penjualan menjadi proses yang terstruktur dan masuk akal. Observasi-Hipotesis-Eksperimentasi. Saya akhirnya bisa membuang ketergantungan terhadap asumsi saya, yang saya sendiri ragu pada kebenarannya.

Chapter 2 dari buku Running Lean menceritakan bagaimana si penulis, Ash Maurya mengiterasi buku Running Lean ini sebagai contoh metodologi Lean dalam membuat produk (such meta, much lean). Ash juga membuat versi videonya, saya sangat menyarankan untuk menonton video tersebut.

Berhubung saya adalah orang yang paling cocok untuk belajar sambil pratek, saya mencoba belajar metode LEAN sambil mempraktekannya pada 2 produk yang ingin saya buat. Pertama adalah aplikasi pertukaran kartu nama digital yang merupakan Tugas Akhir saya, dan yang kedua adalah sebuah komik superhero Indonesia.

Ide komik ini awalnya berasal dari teman saya Mekaputra. Awalnya saya kurang tertarik untuk membuat komik karena asumsi saya bahwa tidak ada pasar di Indonesia. Namun setelah membaca buku Running Lean saya mulai tertarik untuk mencoba menerapkan prinsip Lean dalam membuat sebuah komik. Dan dimulailah petualangan saya dan Mekaputra dalam membuat komik, the Lean way.

Jika kamu punya pertanyaan atau komentar, kamu bisa menuliskannya di bawah. Kalau kamu menyukai post ini, kamu bisa menyebarkannya lewat Twitter, Facebook atau Google+. Follow me on Twitter!